Selasa, 19 Juli 2011

Obat Tradisional Vs Obat Kimia


Dalam memutuskan pengobatan dan obat apa yang akan digunakan, tradisional atau kimia, masing-masing harus memikirkan kebutuhan dan situasi serta kondisi yang sedang dihadapi. Mengapa? Salah satu alasannya adalah reaksi dan cara kerja yang berbeda antara kedua herbal tersebut. Berikut ini adalah beberapa fakta dan perbandingan yang harus diingat ketika Anda hendak memutuskan obat jenis apa yang ingin Anda gunakan.

Tabel Perbandingan Obat Tradisional dan Obat Kimia
No.
Obat Tradisional
Obat Kimia
1.
Harganya terjangkau
Harga relatif mahal karena faktor impor.
2.
Efek samping relatif kecil bahkan ada yang sama sekali tidak menimbulkan efek samping jika digunakan secara tepat.
Efek samping pengobatan lebih sering terjadi.
3.
Reaksinya lambat.
Reaksinya cepat.
4.
Memperbaiki keseluruhan sistem tubuh.
Hanya memperbaiki beberapa sistem tubuh.
5.
Efektif untuk penyakit kronis yang sulit diatasi dengan obat kimia.
Relatif kurang efektif untuk penyakit kronis
6.
Terapi sampingan: Diet terhadap makanan tertentu.
Terapi sampingan: diet terhadap makanan tertentu dan perlakuan tertentu pada tubuh seperti bedah atau operasi dan manajemen stres.

Bila Anda bertanya, mana yang lebih baik antara obat tradisional dan obat kimia, jawabannya bergantung pada situasi dan kondisi Anda. Karena reaksi obat tradisional yang lambat, pada kasus darurat seperti perdarahan misalnya, obat kimia lebih baik digunakan karena reaksinya yang lebih cepat dalam mengatasi gejala dan meredam rasa sakit. Hal yang sama berlaku untuk penanganan pasien pada kasus penyakit akut seperti kanker stadium akhir. Karena bersifat darurat, pengobatan konvensional seperti operasi dan bedah lebih efektif karena relatif cepat.

Dalam kondisi tersebut, jika pasien menginginkan, obat tradisional dapat tetap diberikan tetapi tidak dapat digunakan secara tunggal melainkan dapat dikombinasikan penggunaannya bersama obat kimia dan obat medis lainnya yang diperlukan. Pada saat seperti itu, fungsi obat herbal lebih dititikberatkan pada peningkatakan efektifitas pengobatan sekaligus mengurangi efek samping yang ditimbulkan obat kimia. 

Berbeda halnya pada pasien dengan kondisi yang boleh dikatakan masih aman. Penggunaan obat herbal masih dapat digunakan secara tunggal atau jika diinginkan, dapat juga dikombinasikan dengan obat kimia untuk meningkatkan efektifitas pengobatan tentunya dengan memberi selang waktu pemakaian antara kedua jenis obat tersebut.

Mengapa kecepatan reaksi kedua jenis obat tersebut bisa berbeda? Jawabannya berkaitan dengan mekanisme kerja kedua jenis obat tersebut. Seperti yang telah disinggung dalam tabel di atas, obat kimia bekerja dengan menghilangkan gejala atau penyebab dan meredam rasa sakit. Menurut Dr Amarullah H Siregar obat-obatan kimia lebih banyak bertujuan untuk mengobati gejala penyakitnya, tetapi tidak menyembuhkan sumbernya. Intinya, obat kimia hanya mampu memperbaiki beberapa sistem tubuh.

Berbeda halnya dengan obat tradisional yang bekerja langsung pada sumbernya dengan memperbaiki keseluruhan sistem tubuh yakni dengan memperbaiki sel-sel, jaringan, dan organ-organ tubuh yang rusak serta dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk berperang melawan penyakit. Contohnya, meniran (Phyllanthus urinaria) yang memiliki efek seperti antibiotik. Ia tidak langsung membunuh kuman, namun mengaktifkan kelenjar di dalam tubuh yang menghasilkan sel-T yang merupakan pembunuh alami kuman.

Perhatikan, dalam contoh tersebut, Meniran tidak bekerja langsung menghentikan serangan kuman tetapi dengan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kuman. Tak heran, bila dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk merasakan efek obat herbal dibandingkan jika kita menggunakan obat kimia. Meskipun demikian, keunggulan obat tradisional adalah efek sampingnya yang relatif lebih kecil bahkan ada yang tidak memiliki efek samping sama sekali jika digunakan secara tepat. Alasan utamanya adalah dikarenakan sifat bahan obat tradisional yang alami sehingga dapat dicerna oleh tubuh.

Bentuk Obat Tradisional

Ada banyak bentuk sajian obat tradisional yang beredar di pasaran karena itu ada beragam pula teknik mengolahnya. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Mari kita simak satu-persatu teknik mengolah obat tradisional untuk mendapatkan informasi berguna tentang hal itu.

Merebus dan Menyeduh
Bentuk sajian obat tradisional yang paling sederhana adalah bentuk aslinya (simplisia). Simplisia diolah dengan merebus atau menyeduhnya. Merebus adalah cara pemakaian obat tradisional yang paling mudah. Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan sewaktu merebus bahan obat.

Ketika merebus bahan obat, pemakaian wadah penting untuk diperhatikan. Wadah dari besi dan alumunium tidak disarankan karena racun yang dikeluarkan bahan tersebut bisa mencemari ramuan yang sedang dibuat. Alat untuk merebus yang dianjurkan adalah yang anti karat, tanah liat, dan kaca.

Teknik olah yang kedua adalah dengan cara menyeduh, yakni bahan obat dicampur dengan air panas tanpa proses pemasakan. Ini biasanya digunakan untuk konsumsi obat tradisional asal bunga, contohnya rosella dan daun segar. Seduhan juga biasa dilakukan pada obat tradisional berbentuk serbuk. Serbuk bisa dibuat dari murni tanaman tunggal atau campuran dari beberapa jenis tanaman obat.

Ekstraksi yang Dikapsulkan
Ekstraksi adalah proses mengisolasi senyawa aktif dari tanaman obat dengan menggunakan pelarut seperti etanol. Obat tradisional dari tanaman obat yang sudah diekstraksi memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat sehingga sangat tepat digunakan dalam pengobatan. Memang, harganya sedikit lebih mahal dibandingkan obat tradisional yang tidak diekstraksi karena proses ekstraksi tanaman obat membutuhkan bahan baku dalam jumlah yang besar. Walaupun begitu, Anda tidak akan dikecewakan karena tanaman obat (herbal) yang sudah diekstraksi pengaruhnya jauh lebih kuat dan lebih aman untuk ginjal.
Hasil ekstraksi tanaman obat biasanya dikapsulkan agar lebih praktis. Dengan pengkapsulan, masa simpan obat lebih tahan lama, lebih higienis, dan lebih aman karena terlindungi oleh selongsong kapsul. Yang tak kalah penting, obat tradisional yang telah dikapsulkan telah terukur dosisnya sehingga sangat tepat digunakan dalam pengobatan.

Menurut pakar naturopati Dr. Amarullah Siregar, pada dasarnya pemanfaatan obat tradisional bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. "Boleh dilalap mentah, dijus, direbus, atau dibuat sup. Untuk mengurangi rasa pahit, bisa ditambah madu atau gula merah," paparnya.

Merebus adalah cara pemakaian obat tradisional yang paling mudah. Namun, menurut Amarullah, bila bertujuan untuk menjaga kesehatan, rebusan sederhana boleh dikonsumsi dengan catatan tidak adanya riwayat penyakit tertentu. "Racikan sederhana tidak cukup lagi kalau sudah ada kelemahan dalam tubuh, baik karena faktor genetik atau memang mengidap penyakit tertentu," paparnya. Agar memberikan manfaat optimal, obat tradisional yang dikonsumsi sebaiknya sudah dalam bentuk ekstrak serta sudah terukur dosisnya.

Obat Tradisional

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang terbuat dari tumbuhan, hewan, mineral, atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut yang diolah secara tradisional dan telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Bentuk yang paling populer dari obat tradisional adalah dengan menggunakan herbal (tanaman obat). Obat tradisional seperti herbal  terdiri dari beberapa golongan. Mari kita cermati masing-masing jenisnya.

Obat Tradisional dan Penggolongannya
Obat tradisional berupa herbal dapat digolongkan menjadi 3 macam, antara lain:
  1. Jamu.
    Obat bahan alam yang sediaannya masih berupa simplisia sederhana. Khasiat dan keamanannya baru terbukti secara empiris secara turun-temurun. Bahan-bahan jamu umumnya berasal dari semua bagian tanaman, bukan hasil ekstraksi/isolasi bahan aktifnya saja.
  2. Herbal terstandar.
    Bentuk sediaan obat sudah berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Herbal terstandar harus melewati uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmokologi dimanik (manfaat), dan teratogenik (keamanan terhadap janin).
  3. Fitofarmaka.
    Herbal terstandar yang sudah melewati uji klinis (telah diujikan pada manusia).
Saat ini, obat tradisional semakin banyak diminati karena ketersediaan dan harganya yang terjangkau. Selain itu, menurut beberapa penelitian obat tradisional tidak banyak menimbulkan efek samping seperti obat kimia, bahkan ada yang tidak menimbulkan efek samping sama sekali asalkan digunakan secara tepat.

Obat Herbal

Saat ini, penggunaan obat herbal semakin gencar karena selain terjangkau oleh masyarakat baik dari segi harga maupun ketersediaannya, hasil penelitian modern juga menunjukkan bahwa obat herbal memang terbukti efektif bagi kesehatan dan tidak terlalu menyebabkan efek samping seperti obat kimia.

Meskipun begitu, dalam suatu hal, selalu ada pro dan kontra. Demikian pula yang terjadi pada persoalan pemanfaatan obat herbal.

Ada yang menyukai pemanfaatan obat herbal karena kelebihan-kelebihan yang disebutkan di atas. Namun, ada juga beberapa orang yang menyangkal hasil penelitian tersebut dan boleh jadi berkomentar berdasarkan pengalaman mereka, bahwa minum obat herbal bisa membahayakan kehidupan.

Akibatnya, beberapa orang yang ingin mencoba, mungkin termasuk Anda, menjadi ragu dan bimbang. Mari kita cari tahu, apakah memang benar seperti itu?

Obat Herbal, Apakah Berbahaya?
Ketika Anda mempertimbangkan untuk menggunakan obat herbal, Anda perlu mempertimbangkan hal-hal penting seputar produk herbal tersebut seperti:

Bagaimana saya yakin bahwa obat herbal ini aman?
Beberapa orang meragukan keamanan obat herbal karena banyak berita negatif mengenai pemalsuan obat herbal. Bagaimana Anda bisa mengantisipasi hal itu? Pastikan bahwa obat herbal yang Anda beli sudah mendapatkan izin edar resmi. Belilah dari produsen dan sumber yang terpercaya, jangan membeli dari pedagang obat asongan mengingat banyaknya pemalsuan obat bahkan pada obat yang sudah memiliki izin edar resmi.
Seorang apoteker di Benin City, Nigeria, memperingatkan, ”Bagi pedagang obat asongan, menjual obat adalah sekadar bisnis. Mereka memperlakukan obat seperti permen atau biskuit. Obat-obatan yang mereka jajakan sering kali sudah kedaluwarsa atau palsu. Orang-orang ini tidak tahu apa-apa tentang obat-obatan yang mereka jual.”

Apakah obat herbal ini sesuai kebutuhan dan kondisi saya? Bagaimana dengan efek sampingnya?
Pastikan Anda mengetahui bahan pembuatnya dan jangan segan bertanya pada herbalis atau konsultan penjualan mengenai khasiat dan reaksi obat herbal tersebut. Mengapa? Prapti Utami, dokter yang menekuni pengobatan herbal dan tergabung dalam Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur, menjelaskan alasannya, "Herbal tidak bisa diminum sembarangan karena respons tiap individu bisa berbeda satu sama lain. Meski punya keluhan sama, belum tentu herbal yang diberikan cocok antara satu pasien dan pasien lain."

Sebagai contoh, Jati Belanda yang dikenal sebagai pelangsing alami tubuh, tidak cocok digunakan pada penderita gangguan lambung karena memiliki efek mengiritasi lambung. Contoh lain, Daun sirsak juga dapat meningkatkan asam lambung bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Karena alasan itu, penggunaan obat herbal umumnya dikombinasikan dengan herbal lain yang berkhasiat mengatasi efek tersebut.

Beberapa orang tidak mengetahui fakta tersebut sehingga boleh jadi mereka menyimpulkan bahwa obat herbal tertentu membahayakan. Maka, penting untuk mencari informasi tentang obat herbal yang ingin Anda gunakan untuk membantu Anda  memilih obat herbal yang cocok dan sesuai untuk Anda.

Bagaimana penggunaan obat herbal yang tepat?
Pastikan bahwa Anda mengerti dan mengikuti instruksinya. Doktor Logan Chamberlain, penulis sebuah buku tentang suplemen herbal, mengatakan, ”Hampir setiap laporan pada tahun-tahun terakhir mengenai efek berbahaya dari obat herbal berasal dari kasus orang-orang yang tidak mengikuti petunjuk. . . . Rekomendasi dosis pada produk yang andal adalah aman dan bahkan hati-hati sekali. Jangan mengabaikannya kecuali Anda mendapat nasihat yang bagus dari ahli herbal yang terlatih.” Sekali lagi, Jangan segan bertanya kepada ahli herbal tentang penggunaan obat itu. Anda berhak mengetahuinya. Bagaimanapun juga, tubuh Anda sendirilah yang akan menanggung akibatnya.

Jika Anda tidak menggunakan obat herbal dengan tepat, Anda mungkin tidak akan sembuh. Anda perlu mengetahui seberapa banyak obat yang harus diminum, kapan meminumnya, dan untuk berapa lama. Anda juga perlu mengetahui makanan, minuman, dan obat-obat lain apa atau aktivitas apa yang harus dihindari sewaktu meminum obat herbal.

Sekarang, apa jawaban Anda untuk pertanyaan di atas? Ingat, tidak semua obat herbal cocok untuk setiap orang meskipun keluhannya sama. Jadi, bahaya atau tidaknya obat herbal tidak bergantung pada obat herbal itu semata tapi banyak bergantung pada diri Anda sendiri. Anda bisa bertanya pada diri sendiri: Apa obat herbal yang saya pilih? Apakah saya mendapatkannya dari sumber yang terpercaya? Apakah itu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh saya? Bagaimana saya menggunakannya, apakah sesuai dengan anjuran yang diberikan? Obat apapun bahkan yang paling efektif sekalipun dapat menjadi racun mematikan jika tidak digunakan semestinya.